Showing posts with label Nabi Isa. Show all posts
Showing posts with label Nabi Isa. Show all posts

Sunday, August 30, 2009

Islam & Christology


Excerpt from Kam Weng's summary of dialogue with Dr. Louay Fatoohi at the International Institute of Advanced Islamic Studies on August 13 2009.

"First I should give credit where credit is due. Dr. Fatoohi’s 800 page book, The Mystery of the Historical Jesus: The Messiah in the Qur’an, the Bible and Historical Sources (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2009) represents a major step forward in Muslim engagement with Christology. It is more sophisticated than the other big book “What Did Jesus Really Say? (600pp) written by Misha’al Ibn Abdullah Al-Kadhi in 1995 in that it tries to engage with critical scholarship.

Nevertheless, I can only conclude that Fatoohi’s book is seriously flawed. It is inadequate from the point of view of methodology when the Biblical sources are treated in abstraction and in isolation from their historical and cultural context. Since Fatoohi detached the Biblical texts from the historical trajectory of the life and faith of the early Christian community, he naturally took liberty with these texts. Without a comprehensiveness and consistent historical methodology and hermeneutics, Fatoohi ends up cherry-picking from critics who share his skepticism about the Biblical texts, primarily Geza Vermes and E. P. Sanders.

One symptom of Dr. Fatoohi’s flawed reading is his treatment of the so-called prophecies of Muhammad in the Bible. This is really a silly feature of simplistic Islamic apologetics that could easily be disposed off in 10 minutes. The way in which so many Muslims go about proof-texting the claim that Muhammad was prophecied in the Bible really makes them look naïve, if not desperate. I would recommend Muslims seriously abandon this fruitless venture.

However, I refrained from giving this Muslim apologetic a proper refutation since I was only given 30 minutes for my presentation. I decided to focus on more fundamental issues like typology and prophecies in the gospels to emphasize that the gospel teachings flow naturally from the Old Testament.

I cited R. T. France’s excellent Ph. D dissertation on Jesus and the Old Testament (Tyndale 1971). France’s gave a succinct explanation of typology:

“There is a consistency in God’s dealing with men. Thus his acts in the Old Testament will present a pattern which can be seen to be repeated in the New Testament events; these may therefore be interpreted by reference to the pattern displayed in the Old Testament. New Testament typology is thus essentially the tracing of the constant principles of God’s working in history, revealing ‘a recurring rhythm in past history which is taken up more fully and perfectly in the Gospel events’.

When the Gospel writers use typology, then, they are often not claiming to be interpreting the meaning of the Old Testament passages cited but rather showing how contemporary events are falling into a pattern so reminiscent of what God did in the past that they can explain the present only in terms of God’s acting again.”

Christian scholars are only happy to demonstrate that the faith of the early Christians was rooted in the Old Testament and map out a plausible historical trajectory between prophecy and fulfillment in the Old and New Testament, supported with details drawn from their historical context and social milieu. For a starter I refer to the classic work done by C. H. Dodd on The Apostolic Preaching and its Developments (1936). See also Paul Barnett two works: Jesus and The Rise of Early Christianity (1999); The Birth of Christianity: The first twenty years (2005).

In contrast, it is neither evident nor possible to discern a plausible historical trajectory between the Biblical texts and the later Quranic references to Jesus. At best, the Quran reflects more of the milieu of later apocryphal stories and post-biblical Judaism several centuries later, cf. Abraham Geiger, Judaism and Islam. In this regard, I must conclude that the Quranic Jesus can only be asserted dogmatically. It is a theological claim rather than a historical conclusion."

Report by Rev. Fr. Michael Chua, Ecclesiastical Assistant, Archdiocesan Ministry of Ecumenical and Interreligious Affairs, Archdiocese of Kuala Lumpur

Here is the report posted on the website of the International Institute of Advanced Islamic Studies

Thursday, March 08, 2007

Melolong Di Depan Makam

Orang Kristen Harus Berdepan Dengan Fakta Dalam Dokumentari The Discovery
Karya: Gregory Koukl
Terjemahan: Hedonese aka Dave Chang Wei Hao

Belum lagi pun Dokumentari “The Lost Tomb of Jesus” (Makam Yesus Yang Hilang) disiarkan, sudah ramai orang Kristen yang cemas. Cuma kerana ada yang mencadangkan bahawa rangka tulang Yesus (Nabi Isa) telah dijumpai dalam kotak batu kapur, ramai penganut naik darah dengan gaya “jangan-kelirukan-saya-dengan-kenyataan”.

Nampaknya, ramai penganut Kristen tidak perlu tengok bukti sebelum membuat keputusan. Apabila satu banci di laman web bertanya, “Percayakah anda dokumentari “Makam Yesus”, yang menolak kebangkitan Kristus?”, 97% menjawab: “Tidak”. Penilaian ini dibuat tiga hari sebelum rancangan itu disiarkan. Kepercayaan membuta tuli lebih senang, bukan? Sebenarnya, langsung tidak payah berhadapan dengan para pengkritik.

Lepas itu, ada pula para pembuli yang menuntut Discovery supaya membatalkan rancangan fitnah ini. Sebuah organisasi Kristen menulis surat yang begini:

“Saya berasa marah dengan cubaan Discovery Channel memperkecilkan dan merendahkan maruah agama Kristen dengan tuduhan bahawa ia berdasarkan dusta semata-mata. Sukar saya percaya bahawa Discover Channel berani membuat dokumentari begini tentang agama lain. Hakikatnya anda mungkin telah menolong kita menyedarkan berjuta-juta orang Kristen akan ketaksuban anda yang serong terhadap agama Kristen. Mungkin mereka tidak akan berdiam diri lagi.”

Tindakan mengerasi orang lain sangat memalukan saya, sebagai pengikut Kristus, dan ia harus membimbangkan setiap penganut Kristen yang bertimbang rasa. Bukan sahaja ia berundur dari cabaran sah yang perlu disahut, tingkah laku begini bersifat tertutup.

Lihatlah, walaupun anda sudah yakin kepada Alkitab, isu ini masih belum selesai bagi berjuta-juta orang lain yang berminat dengan kepercayaan anda dan masih menunggu jawapan yang berakal budi dari kita.

Ada banyak sebab munasabah untuk kita pertikaikan kesimpulan dokumentari tersebut, tapi tiada yang akan tahu jika orang Kristen sendiri menyembunyi di sebalik tembok kubu. Setelah menonton dokumentari itu, beberapa masalah muncul di minda:

Para sarjana sudah menemui makam-makam ini lebih dari 25 tahun yang lampau. Ada sebab mereka tidak memandang serius nama-nama tertulis di atas kotak rangka ini. Hanya tiga nama mempunyai kaitan dengan Alkitab: Yesus, Mary dan Joseph. Dan kumpulan nama ini, dari sudut statistik , bukan luar biasa. Pada hakikat, anehnya jika makam sesebuah keluarga tidak mengandungi nama-nama tersebut, memandangkan kegunaan mereka amat umum. Sekurang-kurangnya empat kotak rangka pernah dijumpai yang tertulis “Yesus, anak Joseph”, dan satu perempat wanita masa itu bernama Mary, jadi ada kemungkinan besar sesebuah makam ada kombinasi nama begini. Bagaimana pula tentang hubungan Yesus dengan nama-nama lain? Di sini, spekulasi yang liar tentang hubungan Yesus hanyalah suatu mainan agak-mengagak.

Keseluruhan hujah berdasarkan makna kebarangkalian ‘statistik’ kelompok nama-nama itu. Jika Yesus (Nabi Isa) telah berkahwin, dan jika Yesus bernikah dengan wanita bernama Mariamne, dan jika Mariamne itu nama samaran bagi Mary Magdalena, dan jika Yesus ada adik bernama Matthew, dan jika Yesus juga ada anak bernama Judas, dan jika rangka tulang James yang terkenal itu milik James, adik lelaki Yesus, maka anda dapati semua ahli keluarga Yesus di dalam makam yang sama. Akan tetapi, sudah banyak sangat andaian “jika” yang perlu dibuat tanpa sokongan bukti di sini.

Walaupun ia digelar “Makam Keluarga Yesus”, langsung tiada bukti kukuh bahawa mana-mana kononnya “ahli keluarga” tersebut mempunyai hubungan biologi. Satu-satunya ujian DNA yang dibuat – antara Yesus dan Miriamne – memberi kesimpulan negatif. Izinkan saya ulang lagi: Ujian DNA membuktikan tiada hubungan biologi. Itulah fakta. Yang selebihnya andaian spekulasi.

Dokumentari mendakwa, “Yesus dan Mary telah bernikah, mengikut cadangan bukti DNA”. Tidak masuk akal. Fikirkanlah. Mungkinkah ujian DNA membuktikan seseorang itu sudah kahwin? Dalam kes ini, bukti DNA menunjukkan bahawa Yesus dan Mary tiada hubungan biologi dari ibu yang sama, bukannya bukti hubungan suami isteri. Pada hakikatnya, Mariamne mungkin isteri mana-mana orang lelaki lain di dalam makam itu, atau pun, beliau mungkin langsung tidak mempunyai suami juga. Ujian DNA tidak “mencadangkan” apa-apa yang didakwa.

Para penyelidik mendakwa mereka hanya cuba mengaitkan bintik-bintik bukti yang bertaburan. Baik. Tapi, kenapa harus mereka mengaitkan bintik dengan cara ini? Izinkan saya menjelaskan sebabnya. Kerana cara itu sahaga dapat menceritakan kisah sensasi yang mereka inginkan. Ada banyak cara sah yang lain untuk menyambung bintik-bintik itu – teori yang jauh lebih munasabah daripada teori dokumentari tersebut. Tetapi ia tidak memberi cerita sensasi yang mereka iklankan. Sememangnya, bukankah cara ini sahaja yang mampu mencetus berita hangat yang melariskan jualan buku?

Yesus berasal dari keluarga miskin di Nazareth, bukannya dari golongan kaya atau kelas pertengahan di Jerusalem. Jadi, makam keluarga ini jenis makam yang salah, serta beralamat di dalam kota yang salah.

Dokumentari juga mendakwa Yesus bertutur secara kod. Dakwaan ini palsu. Yesus mengajar dengan cerita ibarat, seperti ramai pendita pada zaman itu, bukannya kod yang sukar ditafsirkan. Mereka juga kata Maria Magdalena adalah pengikut Yesus yang paling dipercayai. Akan tetapi, anda perlu tunggu 400 tahun sebelum bukti begini muncul dalam tulisan Gnostik yang kononnya rekod sejarah. Mereka juga mendakwa ahli keluarga Yesus dihukum bunuh kerana Beliau adalah waris takhta Israel. Ini fiksi semata-mata. Namun, perhatikan apa yang cuba mereka kecapi. Semua ketidaktepatan dan cubaan membesar-besarkan cerita dongeng ini menjadikan sesuatu yang sebenarnya karut berbunyi seakan-akan lebih munasabah.

Kita memiliki dua gambaran yang berbeza tentang apa yang telah terjadi kepada tubuh Yesus dari Nazareth 2000 tahun yang lalu. Yang pertama berdasarkan artifak kotak rangka tulang, dan gambaran kedua berdasarkan dokumen sejarah dari Matius, Markus, Lukas, Petrus dan Paulus. Ya, ia bukannya “sains jitu” tapi sekiranya yang lain-lain tidak berubah, gambaran yang mana satu membekalkan maklumat yang lebih tepat, kotak rangka tulang atau rekod tulisan? Jelasnya, rekod tulisan.

Kebangkitan Yesus dari maut adalah sebahagian dari kesaksian terawal pengikut-pengikutnya. Menurut dokumentari, saksi-saksi yang sama ini tahu tempat Yesus dikebumikan secara rahsia di Jerusalem. Kenapa ramai antara mereka mati demi melindungi dusta yang mereka sudah ketahui? Tidak masuk akal. Tapi teori sebegini yang mesti anda percaya jika mengambil serius kesimpulannya.

Jika kepercayaan Kristen bergantung kepada fakta sejarah kebangkitan Yesus, sepertimana diajar Paulus, maka pengikut Kristus tidak harus berundur atau bersembunyi di sebalik kepercayaan yang membuta-tuli sambil bermuka marah.

Tidak, jika anda seorang Kristen, tidak harus anda lari, sungut, jerit atau membuat perangai. Tapi, anda harus berterima kasih kepada Discovery Channel kerana memberi anda peluang untuk masuk padang and menjaringkan gol kemenangan yang mudah ini.

Thursday, March 01, 2007

Betulkah Itu Makam Yesus?

karya dari Darrel Bock
terjemahan dari Chang Wei Hao

Semalam, saya telah menonton semua laporan berkaitan dengan makam Talpiot. Umat Kristian tidak perlu risau sangat. Beberapa wakil Kristian nampaknya bimbang, seolah-olah menjerit di depan pemberita dalam lapuran khas Discovery itu. Mungkin sebabnya mereka belum tengok lagi rancangan itu dan perlu mengulas tentang isu tersebut, seperti menembak dalam kegelapan. Setelah meneliti rancangan dokumentari itu, hujah-hujahnya mengandungi pelbagai masalah yang boleh dikupas dengan rasa sabar.

Contohnya, kita tidak perlu ijazah bidang biologi untuk mengetahui jika seseorang menguji DNA anda, ia tentunya tidak sepadan dengan kebanyakan orang yang lain. Jadi, hujah DNA yang disebut dalam rancangan itu tidak membuktikan apa-apa, hanya memberi kita suatu keputusan yang sudah dijangka. Seorang pakar Antropologi Forensik berkata semalam dalam rancangan Anderson Cooper 360, ia bukan bukti yang seberapa. Hasil ujian DNA itu tidak membuktikan apa-apa yang penting.

Kita tidak perlu ijazah bidang geografi juga untuk mengetahui bahawa jika keluarga Yesus berasal dari Galilee, kenapa pula makam keluarga mereka berada di Jerusalem? Dua permerhatian mudah ini dapat membantu kita kupas kelemahan hujah dalam rancangan dokumentari ini.

Hujah dari kebarangkalian statistik itu bergantung kepada ANDAIAN bahawa makam Talpiot itu makam sebuah keluarga. Tapi satu-satunya kesimpulan yang mungkin kita dapati dari ujian DNA yang tidak sepadan ialah ia bukannya sebuah makam keluarga. Apa kata sekiranya makam ini tidak mengandungi sebuah keluarga, tapi hanya orang-orang dari keluarga yang berlainan dalam wilayah yang sama? Atau pun makam ini dikongsi oleh beberapa keluarga? Semua soalan asas sebegini adalah sebahagian dari proses pengajian sejarah.

Dan kebenaran bagi ‘senario’ yang mana-mana satu pun akan meyangkal dakwaan sensasi bahawa inilah makam Yesus (Nabi Isa). Jadi marilah kita menanya beberapa soalan biasa ini bagi mendedahkan andaian-andaian tersirat dalam usaha memperolehi nombor ‘statistik’ ini yang mudah dicabar. Seterusnya, analisis kebarangkalian tidak bermakna kerana apa yang disukat itu bukannya apa yang diandaikan.

Maka tiada sebab untuk melolong atau menjerit, hanya memberi soalan yang bagus. Asingkan fakta dari tafsirannya. Fakta: kita menemui makam yang mengandungi sepuluh kotak berisi rangka tulang dari abad pertama Selepas Masehi. Ada nama tertulis di atas kotak dan dua daripada mereka (satu bernama Yesus dan yang lain bernama Mary) tidak mempunyai hubungan biologi. Itu SAHAJA yang kita ketahui dari rancangan tersebut. Yang lain itu tafsiran.

Para penerbit rancangan khas itu kata mereka inginkan lebih siasatan dan mencari kebenaran. Sambutlah cabaran ini, kata saya. Fakta-fakta yang timbul akan menunjukkan bahawa makam Talpiot tiada kaitan langsung dengan keluarga Yesus. Yang ada hanyalah sebuah makam abad pertama yang mengandungi beberapa kotak rangka tulang, yang membantu kita fahami nama dan amalan zaman itu.

Mari kita meneliti isu-isu budaya zaman kita pula. Ya, usaha ‘hentam’ kepercayaan Kristiani makin lumrah dalam kerakusan mengejar wang ringgit dan pujaan ramai bagi sesetengah orang. Mudah kita sebagai umat Kristian berasa kecewa. Saya memberitahu murid-murid di seminari supaya mengambil ‘suntikan vaksin’ sampainya Hari Natal ataupun Easter kerana lazimnya amalan menghantam Kristian pada musim cuti. Jangan terperanjat dengan corak duniawi yang dijangka ini.

Harus juga kita mencabar motif HarperSanFrancisco dalam terbitannya yang sentiasa ‘menghentam’ kepercayaan Kristian.

Tapi, penting sekali, kita perlu dana wang untuk menerbit dokumentari berkualiti tinggi dengan cendekiawan Kristian yang masyhur. Pokoknya, orang umum dapat membuat perbandingan dan lihat sendiri kelemahan hujah-hujah sensasi sebegini.

Mari kita menyahut cabaran untuk memberi pandangan yang sebaliknya. Industri penerbitan Kristian berbillion dollar nilainya. Usaha sebegini tidak memberi kesan atas keuntungan mereka (adakah faktor duit yang paling penting dalam isu ini?)

Hakikatnya, hanya 0.2% wang dijana oleh industri ini boleh mendokong usaha terbitan rancangan khas setiap tahun. Jika syarikat penerbitan Kristian menderma dengan murah hati, kita dapat menonjolkan motif yang berdasarkan kebenaran, dan bukannya keuntungan. Mungkin juga kita tidak harus berbangga dengan organisasi seperti badan Penyiaran Agama Negara [National Religious Broadcasters] kerana tidak melangkah ke hadapan untuk menyahut cabaran budaya ini? Mungkin mereka atau badan sepertinya harus menggembleng tenaga yang padu untuk mempertahankan iman. Kenapa tidak syarikat Kristian besar mengumpul sumber kewangan seperti rangkaian penyiaran kabel lain dan menerbitkan dokumentari berkualiti untuk tontonan televisyen?

Itulah cabaran yang saya berikan. Hentikan jeritan dan rungutan. Hasilkanlah sesuatu berkualiti tinggi yang menonjolkan tahap cendekiawan berwibawa, supaya budaya kita dapat melihat kisah sebenar dengan lebih menyeluruh.

Mungkin usaha sebegini akan menghasilkan sesuatu yang boleh dipercayai dan bermutu.
Inilah usaha yang diperlukan jika umat Kristan serius melibatkan diri dalam perbincangan sejagat. Renungkanlah.